Others

Demam Berdarah Dangue

Demam Berdarah Dangue

Demam berdarah dengue atau biasa kita singkat dengan sebutan DBD adalah penyakit menular akibat virus yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti. “break-bone” sebutan dari DBD yang disebabkan karena sendi dan nyeri sehingga membuat otot pada tulang terasa retak. Demam tinggi, ruam dan nyeri otot juga sendi disebabkan oleh tahap awal terjadinya DBD. Sementara demam berdarah yang parah, juga dikenal sebagai dengue hemorrhagic fever (demam dengue), dapat menyebabkan perdarahan serius, penurunan tekanan darah yang tiba-tiba (shock), dan kematian. Berikut beberapa tanda-tanda dan gejala yang terjadi pada demam berdarah dangue. Berikut 3 jenis DBD yang harus kamu ketahui:

  1. Demam dengue demam tinggi (>40 ºCelsius) selama 4-7 hari setelah digigit nyamuk adalah tahap awal dari gejala demam tersebut yang biasa kita tandai dengan:
  • Ruam

Muncul di seluruh tubuh 3 sampai 4 hari setelah demam, kemudian berkurang setelah 1 hingga 2 hari. Anda mungkin mengalami ruam kedua beberapa hari kemudian.

  • Mual dam muntah
  • Sakit kepala parah
  • Nyeri otot dan sendi parah
  • Sakit kepala parah
  1. Demam berdarah dangue (Dengue hemmorhagic fever)

Perdarahan yang dapat berisiko menimbulkan kerusakan pada kelenjar getah bening dan pembesaran hati. Jenis penyakit dengue ini dapat menyebabkan kematian.

gejala dari demam tersebut bisa kita lihat diantaranya:

  • Sakit perut parah
  • Kerusakan pada pembuluh darah dan getah bening

Pendarahan dari hidung, gusi, atau dibawah kulit. Sehingga menyebabkan memar nberwarna keunguan Selama 24 hingga 48 jam kedepan, kapiler darah di seluruh tubuh mulai bocor. Komponen darah yang bocor dapat mengalir dan membanjiri rongga perut (peritoneum) dan rongga paru-paru.

  • Muntah berkelanjutan
  • Sulit bernapas setelah demam awal mereda.
  1. Dengue shock syndrome

Jenis penyakit ini biasanya terjadi pada anak-anak dan orang dewasa yang mengalami infeksi dengue kedua kalinya. Jenis penyakit ini seringkali berakibat fatal, terutama pada anak-anak dan dewasa muda. Gejala dari dengue shock syndrome adalah yang paling parah. Gejala demam syok meliputi semua gejala dengue dan demam berdarah dengue, dikarenakan gejala dari dengue shock syndrome adalah termasuk yang paling parah, sehingga penyakit ini sering kali mengakibatkan fatal. Gejala diantaranya adalah:

  • Pendarahan parah
  • Kebocoran diluar pembuluh darah
  • Infeksi dengue kedua kalinya yang biasa terjadi pada anak-anak dan orang dewasa.
  • Tekanan darah yang sangat rendah (shock)[1]

“dilansir dari laman Health.detik” Untuk melakukan pengobatan pada penderita demam berdarah dengue. Hal yang harus dilakukan sebelum melakukan pengobatan tersebut adalah hendaknya lakukan diagnosis terebih dahulu, memastikan bahwasanya tubuh tersebut memang benar-benar terserang demam berdarah. Pada dasarnya mendiagnosis demam berdarah agak sulit dilakukan. Hal ini dikarenakan penyakit tersebut memiliki gejala serupa dengan beberapa penyakit lain seperti malaria, leptopirosis, dan tifus. Diagnosis paling akurat adalah dengan tes laboratorium. Namun cara tersebut memerlukan waktu yang cukup lama untuk sekedar memberikan hasil dari tes yang telah dilakukan. Jika sudah dapat dipastikan kalau tubuh benar-benar sedang diserang oleh demam berdarah dangue, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk dilakukannya pengobatan. Sebenarnya tidak ada penanganan spesifik untuk penyakit demam berdarah dengue, biasanya penderita akan pulih dalam kurun waktu 2 minggu. Hal paling umum yang dilakukan adalah istirahat yang banyak di tempat tidur atau bed rest. Air putih selalu menjadi saran unntuk lebih banyak dikonsumsi. Gunakan juga obat penurun demam semacam paracetamol. Obat tersebut juga dapat menurunkan demam dan meringankan rasa sakit. Yang perlu diperhatikan adalah hindari penggunaan obat penghilang rasa sakit semacam aspirin, ibuprofen, dan naproxen sodium. Untuk kasus yang lebih gawat semisal demam berdarah dengue jenis dengue hemorrhevic fever dan dengue shock syndrome akan memerlukan perawatan medis yang lebih intens.

Sumber: Hellosehat.com